Sepatu Baru, Alhamdulillah September 17, 2007
Posted by adhe3t in Peristiwa.8 comments
Kira-kira tiga hari yang lalu gw jalan-jalan ke GedeBage buat nyari sepatu bagus tapi murah… gw sih gak gengsian dalam hidup… mo pake barang palsu atau bekas sekalipun selama itu bagus dan murah, ya gw pake… kecuali dalam hal makanan.. taruhannya nyawa bos…
(berlebihan) (more…)
Australian Embassy September 7, 2007
Posted by adhe3t in Peristiwa.5 comments
Hari Kamis 6 September 2007 gw dapet kesempatan ikut seminar international di Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Seminar dengan judul Australian Education International (AEI) Series in IT, hanya berlangsung satu hari. pembicaranya yaitu Dr. Wayne Brookes yang merupakan salah seorang senior lecturer Faculty of IT, University of Technology Sydney (UTS).
Kisah Semen September 7, 2007
Posted by adhe3t in Peristiwa.2 comments
Bagaimana perasaan lo saat sesuatu yang menjijikan bertengger di atas tempat yang sedang lo duduki?
Hari itu selasa sore di minggu kedua musim gladi ketika zamannya “Bruce Willis” mejeng di poster-poster besar katalog bioskop. si cantik tiba-tiba sms dan ngajak jalan. Biasanya kalo dia yg ngajak duluan, alamat ditraktir tuh. hahahaha. Dengan langkah sedikit gontai dan peluh bercucuran serta sedikit encok di sekujur badan (apa coba), gw akhirnya ada di BSM waktu itu, dengan 5 orang yang ikut brg gw. niatnya mo nonton Die Hard 4 gratisan. nyampe sana ternyata jam tayang nya kelamaan. singkat kata, singkat cerita akhirnya kita ga jadi nomat tapi ngabisin waktu di A&W, setelah sebelumnya ikut ngantri tiket “Harry Potter and the order of Phoenix”, yang baru tayang besok. gw pesen ayam 2 potong dgn segelas beer A&W yg enak bgt. karena lom kenyang, gw lari ke bawah dan beli 3 potong BT sbg desert. hahaha. masih ada yg kurang rasanya, sekonyong-konyong gw pesen ice cream jg deh dsana (lebih gede dari mcflury-a mcD or sundae-a CFC. suer ^__^).
jam 10 kirain mo langsung balik ternyata malah mampir di tempat karaoke yang di samping Piset mall itu. gak ada tempat nunggu alias nongkrong yg enak disana. kecuali dunkin donuts yg buka 24 jam. Tulisan, “dilarang menduduki kursi sebelum memesan makanan”, membuat gw terpaksa merogoh kocek dan membeli segelas coklat panas. yang lain ada yg pesen donat, biarpun cuma 1. yg penting kita ber-6 akhirnya bisa nongkrong disana sampe jam11.
udah capek bgt nih badan. ngantuk pulak. udara bdg makin dingin aja di luar. begoknya gw malah mesan coklat panas yg cm bisa ngangetin badan bentar. padahal ngantuknya udah gak bisa ditahan. tp gw paksain juga tuh ke lt.3 dan memesan 1 kamar premium untuk 2 jam. Dan gw ternyata baru tau knp kita mesti nunggu sampe jam 11. karena di atas jam tsb, sewa kamar kena diskon 40%. lumayan.
akhirnya gw bisa masuk juga ke dalam kamar seukuran 3×4 gw kira. setelah 30 menit ternyata gw masih harus nunggu lagi. Naluri keartisan gw muncul saat itu juga (buat lo yg blm tau, gw jujur aja kalo suara gw lumayan bagus. hahahaha). gw langsung nyari lagu favorit gw. gw masukin dua kata yang udah gak asing lagi dalam dunia Permusikan Dunia (bahasanya) di menu search yg nampang di layar. ADA!!! Christina Aguilera. dari album pertama sampe back to basicnya yg sekarang, ada disana. gw langsung muter beautiful dan duet ama cantik. hahahaha ternyata gw cuma bisa maen di suara rendah. kalo pun mau maksa ya pake palset. hehehehe.
lagu demi lagu kami nyanyikan. dari genre dangdut, pop, rock, campur sari, korea bahkan kosidahan, kami masukin ke list antrian. ngantuk gw ilang setelah gw tereak hits LP di album Hybrid Theory, In The End, dan joged-joged gak jelas saat disco jaipong melati (pilihan gw tentunya) mulai main. lagu diganti mellow. Ada I believe I can Fly-a R.Kelly, dilanjutkan ama January-a Glen Fredly, menambah suasana romantis aja di rabu pagi. hahahaha. ntah di lagu keberapa (gw lupa) tiba2 seseorang dari kami terperanjat dan berteriak, “NANIIII???!!!”..
“opo iki?” tambahnya kemudian.
gw kaget bukan kepalang serasa jantung mau copot. napas tiba-tiba memburu bak dikejar waktu. jantung terus berdegup kencang bak dikejar setan (halah segitunya). gw penasaran dan turut memegang benda itu. bukan benda melainkan sesuatu yang berlendir. bukan sesuatu juga deng, melainkan cairan yang mirip lendir. Atau lebih tepat lendir saja gw bilang.
Luar biasa menjijikan. ada ludah di atas sofa yang kami duduki. temen gw yg lain bilang itu cairan hidung yang khas dari pengidap influenza. dan salah semua ternyata!!! ketika gw bertekad mendekatkan lendir itu ke hidung dan mencium baunya, ada aroma yg khas dari cairan itu. aroma yg sangat gw kenal karena bukan sekali dua kali gw pernah melihat dan menyentuhnya di kala lain. sesuatu yang hampir 99% pria dewasa bahkan mungkin anak laki-laki sekalipun, pernah memegangnya! “SEMEN” !!!
sekonyong-konyong gw ngelap tangan gw ke bagian sofa yang lainnya. Jorok bin jijik binti najis. di tempat remang2 kek gini di dalam ruangan tertutup dan di saat kebanyakan orang sedang lelap tidur, hal seperti ini bukan sesuatu yang istimewa. sangat biasa a.k.a wajar. apalagi di kota besar seperti tempat dimana gw hidup sekarang. BANDUNG. Kota yang malamnya baru awal bagi sejumlah orang.
yg gw sesalkan, kenapa gw gak ada saat kejadian itu. padahal gw bisa menembus pandang ke tiap kamar2 karaoke dari balik kaca-kaca pintu. hahahaha..
==================================================
geliat kang adheet:
Ada-ada saja ide manusia. hanya dari konsep ngadain tempat buat nyanyi bebas, jadi bisnis yg lumayan laku keras. buktinya karaoke dijadikan tempat santai para orang tua dgn anak2nya, para usahawan dengan koleganya, atau sahabat dengan rekan sejawat lainnya. sayang bagi masyarakat kita yg lain tempat seperti ini masih diidentikan dengan tempat2 gak bener. dan emang sedikit sekali keknya di bandung ini dimana pemiliknya masih mengaku bahwa tempat karaokenya itu bersih dari maksiat. yah kembali ke diri kita masing2. mikirnya negatif ya jadi negatif. oiya satu lagi, jgn harap menemukan mushola besar di tempat2 kek gini. hehehehe. mushola di mall yg sekian gedenya aja kecil, apalagi di tempat yang gedenya cuma satu atau dua lantai ini.
Truth Or Dare September 7, 2007
Posted by adhe3t in Peristiwa.2 comments
Waktu itu liburan kelas. Selang beberapa hari setelah UAS. Derita yang berkepanjangan akibat tugas besar, gw habiskan bareng temen sekelas di Cipanas. Selama dua hari gw tinggal susah dan senang dengan temen-temen yg lainnya. Banyak kejadian menarik yang bisa diangkat dari liburan akhir taun ajaran ini. dari awal berangkat aja udah bisa gw tulis satu hingga dua paragraph pembuka. Topiknya tidak lain dan tidak bukan ialah jam karet Indonesia. Kumpul jam sekian, baru berangkat 3 jam setelahnya. Beralih ke perjalanan, bisa sampai tiga paragraph gw menceritakan tentang fery, temen gw yg menaikkan kecepatan sampai 120 km/jam berlatar let’s dance together milik BBB mewarnai perjalanan kami sampai tiba di kota penghasil manisan terenak dan terkenal di jawa barat, Cianjur City. But hey, bukan itu yang ingin gw sampaikan sekarang.
Sampai di persimpangan Cipanas, gw harus melalui jalanan yg lebih sempit daripada dayeuh kolot city. Atau jalanan depan STTTelkom yg sudah sempit, malah makin banyak warung kaki lima yg sengaja didirikan disana. Percaya deh, gw bisa bikin cerpen dari kisah APV silver dan Xenia hitam tahun 2006 yang menanjak di jalanan yg hanya cukup untuk satu mobil itu. Dari peristiwa tabrakan kecil, kendaraan yg gw tumpangin gak sengaja menggoreskan diri ke truk sayur, hingga kisah menunggu giliran untuk bisa bergerak ke depan karena harus bergantian jalan…. bayangin aja jalan sempit untuk dua arah. Dan hey, bukan itu juga yang akan gw ceritain saat ini.
Sesampainya di komplek wilayah Agrowisata Cipanas, kami sudah menyewa satu villa dengan 3 cottage di dalamnya. Butuh waktu yang lumayan panjang juga untuk membahas perihal kedatangan kami yg disambut gerimis deras, kejadian ranjang yang besinya patah ketika gw melompat dan mendarat dengan sempurna di spring bed super deluxe, atau ketika kami mulai masak, nonton bareng, maen kartu, dan kegiatan-kegiatan pribadi lain seperti mandi, cuci piring, dan jeprat-jepret alias hunting. Bukan itu teman!
Ada cerita yang lebih menarik. yang sebenarnya tidak boleh gw ceritain ke siapa pun termasuk temen sekelas gw yang kebetulan berhalangan hadir di sana. Harusnya di awal kisah ini langsung saja gw bilang__seperti pada post-post sebelumnya___seperti ini: “Bagaimana perasaan lo saat hal paling rahasia dari diri lo diungkapkan di depan puluhan orang?”
Adalah malam hari ketika pesta barbeque baru dimulai. Gerimis masih sesekali jatuh dengan lembutnya. Udara dingin Cipanas menyapu rata sampai di pondok-pondok yang berdiri di sekitar villa tempat kami berkumpul sekarang. Sedikit bara dari perapian yg disiapkan untuk membakar jagung seolah melupakan sejenak perjalanan jauh kami dari pagi tadi. Dan cukup pembahasan tentang petualangan kami di air terjun dekat tempat kami akan beristirahat malam hari ini.
Tidak ada acara special yang dibawakan. Selain bakar jagung, bakar ubi, serta berbincang-bincang ringan. Di sela-sela kejenuhan yang mulai tampak, gw berinisiatif ngadain truth or dare. Gw mulai dari diri sendiri. Gw ngajuin truth ke semua yang hadir. Dan pertanyaan pertama langsung bertema tentang perempuan. “berapa kali lo pernah pacaran?”, “siapa aja nama cewek yg pernah deket dgn lo?”, “ceritain kisah asmara lo!”. Ntah jujur ntah tidak, gw jawab apa adanya. Truth berarti harus menjawab dengan terbuka, walaupun kadang kita masih harus berbohong sebagai metode penyelamatan. Dari sekian banyak orang, persentase memilih truth ternyata sangat besar. Untuk kenyamanan pembaca, para tokoh pada kisah ini dengan sangat terpaksa gw samarkan.
Tata (bukan nama sebenarnya) yang memilih truth mendapat pertanyaan yang sedikit mengusik masa lalunya. Di pertengahan tahun pertama dia emang dekat dengan Septi (bukan nama sebenarnya). Dan Tata harus menjawab jujur ketika pertanyaan, “Pesan Pribadi Septi yg terakhir lo terima isinya apaan?”, atau, “lo deket ma sapa skrg dan udah berapa lama?”, sedang Septi sendiri hadir disana, di permainan klasik yg sering dilakukan pas ngumpul atau api unggun. Ada lagi si Tabi (bukan nama sebenarnya) yang digosipkan deket banget dengan Joko, mantan teman sekelas pas tahun pertama. Dia mendapat pertanyaan yang tidak jauh dari bahasan topik yang sudah-sudah. “perasaan lo ama Joko seperti apa?”, “kalo disuruh milih, mana yang lebih baik antara Joko dan Rama?”. Rama adalah teman kelas gw yg lain. Dia yang memegang peranan penting di kelas atau dalam tour dua tahun ini. Jelas Tabi merasa pertanyaan itu kurang etis baginya. Namun mengingat semua orang merasakan hal yang sama ketika ditanya, dan mereka menjawab juga, Tabi pun akhirnya mau terbuka. Celakanya gw lupa dia menjawab apa untuk pertanyaan terkahir ini.
Berbeda dari banyak temannya yang lain, Afi (bukan nama sebenarnya) memilih dare saat itu. Satu per satu kami sibuk menyebutkan tantangan yang pantas untuk teman kami yang memiliki kepala sedikit botak dan berperangai pelawak ini. akhirnya kami putuskan satu tantangan yang cukup ringan namun sangat berarti pada malam itu. “telepon Uus dan bilang perasaan lo ke dia selama ini!!!”. Uus (bukan nama sebenarnya) yang kebetulan berhalangan hadir di acara kelas tahun ini ternyata sulit dihubungi. Selidik punya selidik ternyata Uus sedang sibuk mempersiapkan ujian susulan buat keesokan paginya. Bagi temen-temen pembaca yang belum tau, jadi diantara dua orang ini telah terjadi sesuatu. Pasalnya Afi ternyata sudah lama menyukai sosok Uus yang pinter lagi baik ini. Singkatnya sampai saat ini keduanya belum ada ikatan apa-apa.
Orang terakhir dari rangkaian kisah gw kali ini adalah kiki (bukan nama sebenarnya) dan Si Baram (bukan nama sebenarnya melainkan akronim dari nama lengkapnya). Jujur gw tidak punya pertanyaan buat Si Baram ini karena akhir-akhir ini gw tidak mengikuti gosip di kelas sendiri. Gw kaget begitu ada serangan pertanyaan langsung dari teman-teman gw yang lain. Mereka sumringah seolah menemukan mangsa baru untuk dipermainkan. “bagaimana perasaan lo yang sebenarnya ama kiki?”. Pertanyaan itu sangat sederhana namun terkesan berat bagi dua insan yang sama-sama hadir untuk mengikuti truth or dare ini. Jika dibandingkan dengan kisah Tata dan Septi di awal yang sudah tidak berhubungan lagi, lain ceritanya.
Sepintas terlihat asmara yang begitu menggelora dari pancaran sinar mata Si Baram. Kata demi kata akhirnya ia kawinkan dengan sangat memesona. Di akhir kalimat rupanya, wajah kemerahan itu masih nampak di bawah temaram lampu Cipanas yang berselimut langit mendung, hitam, dan menawarkan sejumput gerimis dalam porsi yang lebih besar.
Apa yang terjadi kemudian dengan kiki? Cukup sulit baginya untuk memilih mana yang sebaiknya ia pilih malam hari itu. Jika ia lebih menyukai Dare, lantas orang akan memaksanya, “jawab pertanyaan tadi dengan jujur”, “it’s simple, just yes or no!!!”. Apakah akan lain ceritanya kalo dia milih truth?? Apakah tidak akan ada orang atau seseorang yang tetap penasaran mendengar pengakuannya, yang pada malam hari itu merupakan jawaban atas pertanyaan laki-laki usia 20 tahunan yang gw kira dia sudah sangat bosan menunggui waktu yang berjalan tiga kali lebih lambat dari biasanya, pada malam dimana keduanya bersama dalam sebuah permainan sederhana.
Cukup sudah sampai disini saja gw menceritakannya. Biar yang ada pada malam itu saja yang tau kisah selanjutnya. Gw minta maap jikalau ada kata yang kurang berkenan di hati para pembaca yang setia mengikuti kisah ini dari awal. Yakinlah, esok harinya bisa dijadikan cerpen lagi seandainya gw memaksa menceritakannya disini. Biar lain waktu saja gw menceritakannya.
Geliat kang adheet:
Fiuh,, tadinya mo dibuat cerita santai seperti pada umumnya, cuma dari awal sudah keasikan berbicara kontemporer dan sedikit menggelitik. Sebenarnya sudah dari paragraph ketiga ingin ngakak sambil guling-guling di depan kibot.. wakakakakakak




