jump to navigation

Tiga Wanita di Lampu Merah Bubat September 14, 2008

Posted by adhe3t in Peristiwa.
trackback

Ya Allah, pemilik semua makhluk dan yang menjadikannya bermacam-macam, ampunkan hambaMu yang telah menyaksikan kejadian memalukan dan tidak berbuat apa2.

Kau pasti melihatnya juga, Rob. Di lampu merah perempatan bubat, rute bubat-dako, aku jg menyaksikan dua orang pengemis tua yang keduanya perempuan. Hal itu bukan lagi tentang perasaan prihatin atau simpati kepada mereka. Bukan pula tentang mau atau tidaknya membagi uang recehan di dalam celana.

Rob, limpahkan berkah serta rezeki yang berlipat bagi dia, seorang wanita berjilbab, yang berhenti di tengah jalan lalu memberikan dua buah kotak nasi kepada dua pengemis itu. Sungguh terpuji dan mulia tindakan beliau. Sementara tidak sekalipun sampai sekarang saya melakukannya di tengah-tengah jalan. Ialah memberikan sisa nasi lebih dari sebuah acara kepada mereka yang lebih membutuhkan. Meskipun hari ini buka bersama Asosiasi Informatika Bandung banyak menyisakan nasi kotak, tetap saja akhirnya dibawa kembali pulang dan dijadikan bekal sahur keesokan harinya oleh pengurus.

Rob, setelah beberapa menit berlalu dan lampu mulai berganti hijau, dan setelah si pemberi nasi kotak melanjutkan perjalanan lagi, disana aku menyaksikan kejadian yang seharusnya tidak pantas kulihat, karena sampai saat ini masih menggelayut manja di otakku. Rob, Engkau tahu apa yang kulihat. dan Engkau jg sangat tahu apa yang orang-orang lain katakan jika mereka melihatnya juga.

Rob, satu dari dua pengemis wanita itu berdiri, berjalan dengan tanpa perlahan, lalu mengambil nasi kotak yang seharusnya menjadi hak satu pengemis di dekatnya. Tidak hanya itu, ia juga lalu mengambil dua-tiga recehan di dalam rantang tempat si pengemis mengumpulkan uang. dan Ya Allah, yang lebih membuatku ingin sekali memarahi si pengemis pertama, adalah karena si pengemis kedua saat ini tidak bisa melihat.

Rob, adalah kekuasanMu untuk membuat semua plot dan skenario hidup. Adalah hal biasa seseorang memakan hak satu orang lainnya. Seseorang merugikan satu dan lainnya. Hal yang biasa ketika kita berbuat zolim kepada orang lain. Tapi tidak untuk hari ini!

Rob, berikan kelapangan hati dan ringankan beban kedua pengemis tadi agar tidak terjadi lagi peristiwa memalukan ini. Limpahkan pula rezeki dan keberanian kepada hamba, agar bisa melupakan dan memaafkan kejadian ini.

Dari McD menuju kampus
Satu jam setelah buka bareng AIB
LPKIA, Bandung

Comments»

1. RuleZ - September 15, 2008

adit niy… introspeksi…introspeksi….

2. bakazero - September 15, 2008

beuh… ngeri euy ceritanya…
tapi alus… ngaderegdeglah…

3. ahnShev - September 15, 2008

miris ya :(

4. uLinAjah - October 12, 2008

ehm,,gw tw bgt tuh dit 2 pengemis itu…
tp yg gw sesalkan dr mreka,,gw prnh lyat mreka ngerokok dit…
gw bingung…
yg gw tau,,mreka mengemis utk mencari sesuap nasi,,tp knp mreka msh bs beli rokok??
syg bgt kan??

5. jejakandromeda - October 14, 2008

Saat puasa banyak yang berubah jadi dermawan, bagi-bagi bukaan/sahur misalnya. Ehm… ini suatu poin yang bagus sih. Dan memang berlomba untuk kebaikan. Kembali ke soal pengemis, diantara yang lemah pasti ada yang lemah … ada juga yang berkuasa.
Wah ngomentarin pengemis di perempatan bubat, sering tuh gw liat di pojokan sambil duduk…. ehm…. sebenarnya gw sendiri sih gak terlalu perduli…. kenapa? karena ngemis itu udah jadi mata pencaharian….apalagi kalau yang ngelap2 kaca mobil…. bikin takut….. Mending ngasih ke pengamen yang memang dia nyanyi dan kita bisa dengerin suaranya….

Tapi inilah potret rakyat Indonesia…. gak tau salahnya dimana…

6. Panji Winata - December 5, 2008

iya….. sependapat ma jejakandromeda……
pengemisnya banyak yang masih muda(produktif dalam hal mencari nafkah),sehat bugar, berbadan tegar, namun mengemis dijadikan mata pencaharian yang mana membuat mereka malas tuk berusaha. Lain halnya jika mengemis itu dilakukan untuk mengumpulkan uang terus dibuat usaha, seperti berdagang asongan ataupun hal lainnya….
Terkadang percuma kita kasih uang, lah toh besok dia minta2 lagi, ibaratnya menganggap ngemis itu pekerjaan, yang cenderung membuat jiwa mereka jiwa malas tuk berusaha. Alangkah baiknya uang hasil ngemis itu ditabung/dikumpulkan untuk membuat usaha, seperti berdagang kecil2an.

Aku lebih respect terhadap pengamen yang notabene menjadai musisi jalanan ataupun pengemis yang betul2 mengemis untuk bersekolah dan pengemis yang jelas2 tidak mampu untuk mencari nafkah (dengan kondisi fisik dan mentalnya).