jump to navigation

Puisi Subhana August 15, 2007

Posted by adhe3t in Puisi.
add a comment

Dedicated to HMIF

Bapak bilang ke anaknya
Anakku yang kucinta
Engkau usah meniru yang ada katanya
Semua lupa akan cela
Ingat hanya dunia
Sudahlah itu-itu yang lama
Kita kini kirim saja wacana
Maaf
Biar selendang kasih terbentang tetap terjaga

Bapak tertawa geli seketika
Anak-anakku sering pergi datang katanya
Lupa mereka akan apa yang ia beri ditahunnya
Duduk diam dandan-dandani muka
Bisa hanya mencela mendusta
Bohong dan bertanya-tanya
Lalu lari lompat tanpa duka
Congkak tak sadar milik siapa

uh bapak tawa gila
lain-lain berubah tempat dan suasana
semuanya saksikan bangsa tetangga katanya
sudah pandai meniti tangga
dengan cepat pula
tapi mengapa soal kita
asik menganggap bisa, biasa
itu karena terlalu lama
kita tidur di ranjang satu warna
penuh harum buat kita lupa segala
sedang lainnya masih ada warna beda

Sekali pernah aku pada bapak tanya
Tapi terus tancap bapak menanam kata
Lihatlah langit lama buruk rupa katanya
Semua sebabnya selalu kita
Tak siap kalah dalam laga segala
Marah atas tarian nasihat berupa-rupa
Asik sawah dipeluk kita
Asik urusi karib seide kita
Asik mendelik bila laut gelombangkan menggunung seketika
Asik ciptakan lagu lidah penuh kelok bagai sungai ke muara
Asik kukuh bolak-balikan teori-teori sarat warna
Asik dan asik mewajahkan keasikannya

Bapak makin keras tawa
Gila aku dibuatnya
Sekarang coba engkau jadi engkau saja katanya
Aku jadi aku saja
Adikmu jadi adikmu saja
Kakakmu jadi kakakmu saja
Ibumu jadi ibumu saja
Tetangga jadi tetangga saja
Sahabat jadi sahabat saja
Air jernih tetapkan jernih saja
Lumpur tetapkan lumpur saja
Hutan tetapkan hutan saja
Yakinlah nikmat Subhana kelilingi kita
Dan dengan pelan pasti pula roh rasa biasa
Hidangkan tumis adil tanpa harus dipiringi segala

Terakhir bapak bilang padaku seketika
Berkata nadanya murka
Anakku Tuhan luar biasa dalam segala
Tak bisa dibayangkan maunya
Sedang manusia adalah kita
Larilah mencari telaga
Temukanlah ladang surga
Dan garaplah apa yang ada
Agar angin asik tempati jiwa
Karena setiap kita pemilik warna
Pemilik mutlak suara dada
Coba pahamkan Subhana katanya
Bila tak apa, tak apa
Syukurlah aku punya rasa
Cinta Subhana

Di akhir cerita rupanya
Pada bapak aku mau kata
Jadi kutik otakmu kini segera
Ajari kita nyanyian agung surga
Biar mahkota tetap di nirwana
Dan nafas merajut menyulam menyukma
Karena deras sungai adalah zam-zam seketika
Dan mekar bunga adalah mawar adanya
Dengan isteri yang keempat belas bapak pun bahagia
Maka dorong perahu ke tengah segera
Menjauh ke tempat Subhana